Blogger Widgets irwan17blog: Cinta dan Sex di Mata Matematika

Rabu, 15 Juni 2011

Cinta dan Sex di Mata Matematika



Cinta adalah sesuatu yang paling sukar untuk dijelaskan. Meskipun Plato menggambarkan cinta sebagai “sebuah musuh dari alasan', tetapi di sini akan dihadirkan sebuah penggambaran tentang cinta dengan menggunakan persamaan matematika. Menurut matematika, cinta bukan sebuah emosi tetapi merupakan respon tingkah laku yang setara dengan output dari sebuah fungsi multi-variable dari banyak emosi.

Cinta adalah faktor penentu hubungan di antara individu. Tidak ada cinta di antara binatang. Yang ada hanyalah sedikit rasa nyaman di dalam perasaan binatang, seperti halnya keberadaan : seks, rasa lapar, haus, takut, sakit, marah, gembira, dan kebersamaan. Ukuran emosi yang mendasar ini sebagian besar menggambarkan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain.

Satu hipotesa yang penting adalah bahwa cinta juga merupakan sebuah fungsi waktu dan konteks. Cinta tidak terjadi di ruang hampa dan cinta merupakan tanggapan atas berbagai stimulan pada waktu tertentu saja.

Fungsi matematika untuk cinta dan sex tersebut adalah:

l= f(t, x 1 ,x 2 ,x 3 ,x 4 ,x 5 ,…………..,x n, )

Di mana l= Cinta, f adalah suatu fungsi variabel-variabel t =Waktu, x1=sex, x2= kemarahan, x3= kecemburuan, x4= benci, x5= sifat possessive, x6= kepedulian, x7= tanggung jawab, x8= tingkat ketenangan, x9= minat, x10= respek, x11= sifat kebapakan, x12= sifat keibuan, x13= aroma tubuh, x14= rasa lapar, x15= dahaga, x16= ketakutan, x17= nyeri, dan lain-lain sampai variabel x n.



Contoh kasus :

1. Untuk pertamakali seorang pria bertemu dengan seorang wanita. Pada pandangan pertama si pria jatuh cinta kepada si wanita. Bagaimana persamaan di atas menjelaskan keadaan ini ?

Seperti umumnya proses tumbuhnya perasaan cinta di dalam diri setiap pria, maka faktor pertama yang mempengaruhi adalah rasa ketertarikan secara seksual terhadap wanita. Nilai awal yang bersinggungan adalah x1= seks. Variabel ini bisa jadi berada pada titik maksimum di saat perjumpaan awal, sedangkan nilai variabel lainnya dari x2 sampai xn lebih kecil pada waktu t=t1. Tetapi pada waktu t= 9 hari setelah pernikahan secara menyeluruh dampak dari x1=sex tidak sampai sebanyak di l=Love karena komponen seksual dari cinta akan menjadi lebih sedikit menurun. (Perhatikan hukum Diminishing Marginal Returns)



2.Sekarang situasi dibalikkan. Seorang wanita untuk pertamakali bertemu dengan seorang pria dan si wanita jatuh cinta kepada si pria.

Pada saat itu yang berlaku adalah t=t1, x1 =0 untuk wanita (ini adalah berdasar kepada pengakuan banyak wanita) dan mungkin x9= minat adalah maksimum. Sehingga seorang wanita tidak dapat merasakan apapun secara seksual, meskipun demikian dia mungkin tertarik karena penggunaan komponen sama minat. Karenanya, formula yang sama akan menjelaskan cinta yang dirasakan, dipersepsi dan dipahami oleh mereka pada waktu yang sama tetapi di dalam cakupan yang berbeda dalam hal emosi dan intensitas.

3.Fungsi tersebut akan menjelaskan berbagai macam bentuk cinta. Pada hubungan cinta seperti cinta karena persaudaraan, kasih sayang orang tua dan persahabatan, yang tidak ada unsur sex di dalamnya, maka nilai variabel x1=0.

4.Bahkan pada kasus cinta yang tidak normal, misal ada unsur sex antara dua orang saudara atau orang tua dengan anak (incest) masih dapat dijelaskan oleh fungsi ini.

Cinta tidak selalu berarti sebuah perilaku yang baik. Cinta merupakan sebuah tanggapan atas stimulan, karenanya tanggapan itu juga bergantung pada stimulannya. Suatu saat boleh jadi seseorang ayah sangat cinta kepada anak perempuannya sebagaimana harusnya seorang ayah pada anaknya, tetapi jika pada waktu= t, dan si ayah yang sangat sibuk di kantor terpaksa membatalkan janjinya dengan si anak, maka faktor x i =frustrasi akan mengubah kekuatan dan nada cinta dan si ayah mungkin menjawab dengan kasar dan tidak ada rasa bersalah ketika diprotes oleh anaknya tentang hal itu. Pada suatu hari ketika si ayah mungkin mabuk atau disebabkan “kegilaan”, mungkin saja variabel x1= seks akan bernilai.

Jadi, cinta tidak hanya terdiri satu dimensi saja. Dan itu berubah sesuai konteks waktu dan perubahan setiap emosi. Seks hanyalah salah satu variabel dari fungsi yang digambarkan sebagai cinta. Variabel itu berlaku umum pada laki-laki dan perempuan dan berlaku setiap waktu. Dan pada suatu saat bisa jadi komponen seks dalam cinta pada keduanya akan menjadi sama. Pernyataan ini menyangkal pendapat sebagian orang bahwa hanya kaum pria yang agresif dan menyukai seks, dan kaum wanita hanya bertahan saja. Sebenarnya grafik hasrat seksual akan menurun pada kaum pria dan mengalami peningkatan pada kaum wanita di usia tertentu. Dan ketika grafiknya berpotongan pada suatu titik, maka di situlah tercapai titik keseimbangan. Kecocokan seksual akan dicapai ketika perbedaan antara dua grafik ini tidak terlalu banyak. Ketika hasrat sex salah satu pihak sangat menurun cenderung mendekati 0, maka pihak yang tidak puas akan terdorong ke arah ketegangan dan terlahir berupa luapan emosi-emosi yang negatif, marah, dongkol, dan lain-lain.

Pada kasus no.2 digambarkan dalam situasi dan kondisi di masa lalu. Di masa sekarang, ketika kedudukan pria dan wanita sudah tidak jauh berbeda, di era kebebasan seks merajalela merasuki kehidupan masyarakat, maka rumusan variabel x1= 0 pada kaum wanita sudah tidak berlaku lagi. Bisa jadi hampir sebagian wanita di masa sekarang ketika pertama kali bertemu dengan pria sudah berpikir tentang seks. Dan si pria akan berpikir, “Apakah aku akan sanggup melayaninya di tempat tidur?”

Pria dan wanita mencintai dengan intensitas yang sama. Komponen dari cinta berubah di dalam diri keduanya menurut waktu dan konteks. Jadi kita tidak bisa menuntut balasan perasaan yang sama karena setiap individu memang berbeda. Cinta orang tua juga akan berbeda terhadap satu anak dengan anak lainnya, walaupun mereka tidak mau mengakui hal itu, ya kan?

Cinta tetap ada di antara setiap individu, di antara sepasang suami istri yang sedang bertengkar sekalipun. Hanya disebabkan variabel x2= kemarahan, x3= kecemburuan, x4= benci, x5= sifat possessive berada pada titik tertingginya, sedangkan variabel-variabel lainnya seperti x6= kepedulian, x7= tanggung jawab, x8= tingkat ketenangan, x9= minat, x10= respek, x11= sifat kebapakan, x12= sifat keibuan sedang mengalami penurunan secara drastis, maka akan tampak seperti tidak ada kasih sayang di antara keduanya. Secara umum emosi-emosi negatif yang muncul sebagai akibat meningkatnya variabel-variabel x2 sampai dengan x5 tidak disukai banyak orang, sedangkan peningkatan variabel x6 sampai dengan x12 sangat diharapkan. Tapi sekali lagi, bukannya tidak ada cinta dalam sebuah pertengkaran antara sepasang suami istri, tapi cinta sedang berubah konteks, dan kebetulan secara umum konteks itu tidak disukai banyak orang. Apakah anda pernah mendengar tentang sepasang kakek nenek yang ketika salah satunya meninggal dunia, maka yang ditinggalkan berkata, “Aku rindu dengan omelan-omelannya.”

Nah, demikianlah pembahasan singkat tentang cinta menurut ilmu matematika. Kesimpulannya adalah bahwa cinta bisa berwujud apa saja dan hadir diantara manusia. Pernahkan anda mengerti cinta Tuhan terhadap hambanya yang diberikan kesusahan hidup dan penderitaan, apakah lebih buruk dari cintaNya kepada hambanya yang diberikan kekayaan dan kesenangan?

sumber : kaskus : http://archive.kaskus.us/thread/5615410

Tidak ada komentar:

Posting Komentar