Blogger Widgets irwan17blog: Sejarah Kerajaan Bunut

Selasa, 21 Juni 2011

Sejarah Kerajaan Bunut

Artikel ini saya temukan bersama2 dengan siswa(22/06/2011)ketika selesai acara malam di sekolah....mungkin sebagian org sudah tau, tapi bagi mereka generasi muda pastinya banyak yg belum tau dengan sejarah kerajaan bunut. maka dari itu tidak salahlah bagi saya selaku anak Bunut Hilir memuat artikel ini di sini...moga kita lebih mengenal sekaligus menghargai budaya dan sejarah nenek moyang kita...amin.Tidak lupa di sini saya berterima kasih kepada mas kukuh di blog Prabu Nusantara atas artikel ini...

keris raja
tongkat raja

Seperti biasa Mahyudin sangat antusias dengan segala kegiatan penelitian kami, sore ini sudah menunggu di halaman depan rumah pak Wim. Seperti yang ia janjikan kami akan dibawa bertemu dengan salah seorang ahli waris kerajaan bunut, pak Raden Sudarso namanya. Beliau tinggal di kampung Hilir (desa Bunut Hilir). Sebelum berangkat kerumah pak Su (panggilan pak Sudarso) Fahri dan Kukuh sempat berdiskusi cukup panjang mengenai masalah yang sebenarnya cukup sederhana menurut saya. Hari ini kami semestinya bertarawih di masjid Kampung Hilir bersama pak Wim, tapi karena janji dengan pak Su rencana Tarawih pun di batalkan. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengatakan dengan halus kepada pak Wim sang kepala desa bahwa kami hari ini tidak akan ikut bertarawih dengan beliau. Apakah kami akan membagi kelompok: satu orang menemani pak Wim sholat di Hilir dan sisanya wawancara dengan Pak su atau solusi lainnya. Setelah berdebat cukup panjang belakangan diketahui bahwa pak Wim sudah berangkat tarawih sendirian. Dan pak Su setelah ditelpon pun tidak bisa ditemui langsung pada saat itu karena beliau ternyata bertarawih di masjid Hulu, masjid yang sama tempat pak Wim sholat. Alhasil karena kemalasan dan demi efisiensi waktu kami berempat (saya, Fahri, Kukuh dan bang Mahyudin) memutuskan untuk bertarawih di Surau terdekat dari rumah, surau yang bilangan rakaatnya paling sedikit.
Selesai tarawih kami berjalan kearah barat Nanga Bunut menuju kampung Hilir (masyarkat setempat biasa menyebut desa Bunut Hilir dengan Kampung Hilir saja)jalan menuju rumah pak Su berada tepat dibelakang kantor kecamatan, satu jalan dengan kantor KUA, puskesmas dan kantor korem (cek lagi). Sebelumnya kami belum pernah melewati daerah ini. Suasana sepi karena sedang hujan gerimis, tampaknya tidak ada yang berminat keluar atau sekedar duduk-duduk diberanda rumah pada cuaca seperti ini. Selama perjalanan menuju rumah pak su seperti biasa bang Mahyudin terusmengoceh memberikan informasi-informasi yang menurutnya perlu kami ketahui dengan gayanya yang humoris. Termasuk informasi kalau untuk mencium tangan pak Su jika kami bertemu dengan beliau.
Diberanda rumah pak Su ada ibu Dayang (istri pak Su) dan Deni, dia masih kerabat jau dengan pak Su. Belakangan di ketahui bahwa walaupun Deni masih berkerabat dengan Pak Su tapi dia belum pernah sekalipun diizinkan untuk melihat pusaka kerajaan. Dan setelah mengetahui dari Mahyudin bahwa kami semua akan dipertontonkan pusaka kerajaan oleh pak Su maka diapun sudah stand by di rumah
Pak Su sebelum kedatangan kami. Pak Su belum berada di rumah, lalu kami terlibat percakapan basa basi dengan Deni sementara bu Dayang bergegas ke dalam untuk membuatkan sepoci the hangat untuk kami.
Deni yang sekarang sudah semakin kelihatan rasa tidak sabar dan penasarannya berinisiatif untuk menelpon pak Su, terjadi percakapan dalam bahasa Hulu antara Deni dan pak Su. Dalam bahasa Hulu Mahyudin menanyakan apa yang di katakan pak Su kepada Deni didalam tepon. Lalu dia (Mahyudin) menerangkan kepada kami bertiga dalam bahasa Indonesia kalau pak Su sedikit lebih lama di masjid karena urusan pesantren anak nya yang bersekolah di Tsanawiyah.
Sedangkan apabila seorang laki-laki berdarah bangsawan menikah dengan perempuan biasa maka istrinya juga tidak akan mendapat gelar bangswan tapi anak-anak mereka akan menjadi bagian dari istana. Semua anak mereka akan mendapat gelar kebangsawanan.
Kerajaan bunut didirikan oleh tiga bersaudara yang berasal dari tanah jawa (jogjakarta), masing masing mereka bertekat untuk mendirikan sebuah negri yang sejahtera. Maka mereka bertiga berembuk untuk membagi daerah mana yang akan menjadi daerah kekuasaan mereka. Maka didapatlah sebuah kesepakatan Raden Setia Abang Berita mendapat bagian memerintah di Bunut, dua orang saudara nya yang lain memerintah di embaloh dan daerah kapuas. Sang kakak yang memerintah di Kapuas kemudia pulang ke tanah Jawa karena takut tidak ada yang akan memerintah kerajaan yang disana, maka ia menyerahkan tanah kerajaan yang di Kapuas kepada Abang berita untuk dipimpin. Maka bertambah luaslah wilayah kerajaan bunut. Akan tetapi kemudian hari didapat berita bahwa sudah ada yang melanjutkan pemerintahan kerajaan di tanah Jawa, walaupun begitu sang kakak terlanjur malu untuk kembali ke Kalimantan untuk meminta kembali kerajaan kapuas yang telah diserahkan kepada sang adik Abang Berita. Kerajaan ini diresmikan pleh pemeritah kolonial Belanda pada tahun 1877 didalam Surat asisten residen Sintang nomor 91 tahun 1877 pada tanggal 19 januari 1877. Namun sebenarnya kerjaan ini sudah berdiri 62 tahun sebelum disahkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Kampung pemukiman pertama di negri bunut adalah bernama kampung Palin, diawal pendudukan Abang Berita melakukan ekspansi dan pendudukan di tanah Kalimantan dia menaklukkan bangsa Dayak yang pada saat itu masih menganut animisme. Rakyat negri bunut pada awal kerajaan terbentuk sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang. Kebanyakan diantara mereka adalah Dayak, kemungkinan mereka kemudian masuk Islam dengan cara kawin dengan pasukan (tentara) tiga orang Raja yang datang dari tanah Jawa ini.
Pada saat sekarang mereka mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu Bunut, menarik bahwa sebagai sebuah kerajaan yang dibentuk dari hasil penaklukkan bangsa Jawa kebudayaan mereka sangat kental dengan unsur Melayu Sumatra. Hal ini terlihat sangat jelas dari bahasa yang mereka dunakan (bahasa Melayu Hulu atau sering disebut sebagai bahasa Hulu saja), banyak ragam kosakata yang sangat dekat bunyinya dengan kosakata bahasa melayu sumatra (Riau, Sumbar dan sekitarnya) seperti cara pemanggilan didalam keluarga (atok, inik, ayi, mamak, abang, kakak, mak ngah, angko dan lain sebagainya). Beberapa kesenian tradisional yang diaku sebagai milik mereka seperti tari zapin, alat-alat musik. Arsitektur bangunan yang sangat mirip dengan arsitektur melayu riau, lalu hal ini juga terlihat pada motif2 kerajinan kerajaan (pada payung raja, pada tenunan kain raja dan lain sebagainya). Tapi walaupun begitu pengaruh dayak dan jawa juga terlihat, beberapa kata dalam bahasa hulu memuliki bunyi dan dan makna yang sama dengan kata dalam bahasa dayak kantuk. Pengaruh jawa terlihat dari gelar2 gelar kerajaan seperti raden, gusti , ratu pangeran dan lain sebagainya. Satu peninggalan kerajaan yang sangat bercirikan jawa adalah keris Raja. Menurut pak raden Sudarso keris ini pernah diminta kembali oleh keraton Jogja karta tapi demi menjaga amanah leluhur beliau menolak untuk mengembalikan keris ini.
Pak Su menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan dengan nada yang lembut, perlahan dengan artikulasi yang sangat jelas dia menekankan kata-kata yang dianggapnya penting, kata-kata yang keluar dari mulitnya tertata rapi secara umum saya menilai pak Su berusaha untuk tampil seformal mungkin didepan kami. Bahkan ketika Mahyudin memancingnya berkelakar dalam bahasa hulu dia terkesan tidak terlalu mengapresiasi kelakar Mahyudin. Hal ini juga terlihat dari bahasa tubuh pak Su, dia menunjukkan arah dengan menggunakan ibu jari kanan. Hal ini tidak bias di bagi orang bunut. Saya tidak bisa menilai apakah semua bangsawan kerajaan Bunut seperti ini atau tidak.
Walaupun pak Su tidak mengetahui dengan pasti sampai seberapa luas wilayah kekuasaan bunut, saya mengira cukup luas karena Jongkong dan embaloh juga masuk wilayah kerajaan. Dan yang pasti adalah menurut pak Su danau Siawan dan Pontu masuk kedalam wilayah kekuasaan kerajaan Bunut. Ada tradisi yang masa kerajaan yang masih dilakukan masyarakat samapi sekarang, pada masa kerajaan raja membuat peraturan agar tidak membuang kepala ikan biawan kedalam sungai tapi harus dibuang ke daratan. Karena dipercaya belatung dari kepala-kepala ikan yang membusuk ini akan menjadi lebah.
Beberapa benda pusaka kerajaan yang ada disimpan oleh pak Su adalah :
Tongkat kerajaan, tongkat ini terbuat dari kayu belian bagian ujung yang menjadi pegangan terbuat dari tulang. Menurut pak Su tongkat ini sudah dimiliki oleh keluarganya selama empat generasi. Ketika dipegang oleh kakeknya tongkat ini mengeluarkan bau harum. Ketika seseorang mengukur tongkat ini dengan jengkal maka ketika dia mengukur untuk yang kedua kalinya hasilnya tidak akan pernah sama. Jika jari kelingking seseorang berada tepat di ujung tongkat ketika jengkalan yang kedua dia diramalkan bisa menjadi seorang pemimpin, menurut pak Su selama tongkat ini dia pegang hanya ada tiga orang yang mengukur tongkat dengan pas yaitu bupati dan wakil bupati Kapuas Hulu sekarang dan mantan Bupati Kapuas Hulu dari periode sebelumnya.
Gentong keramat yang terbuat dari tanah liat, gentong keramat ini menurut pak Su bisa berpindah tempat. Karena gentong ini terus mengikutinya ketika terus mengikutinya ketika pindah rumah dia memukul mulut gentong dengan palu. Setelah itu gentong keramat tidak bisa lagi berpindah tempat secara gaib, tapi semenjak pemukulan mulut gentong oleh pak Su beliau arwah penghuni gentong marah dan menghatui pak Su. Setelah minta maaf baru makhluk halus penunggu gentong ini tenang dan tidak mengganggu lagi. Ada satu pantangan ketika melihat gentong, dilarang melihat bagian dalam gentong karena akan mengakibatkan orang yang melihat tersebut kerasukan yang tidak bisa disembuhkan.
Keris raja. Dilihat dari fisik keris ini tidak ada nuansa melayu sedikit pun sepengetahuan saya keris ini sangat mirip sekali dengan keris Jawa. Menurut pak su keris ini dibawa oleh raja dari tanah Jawa. Menurut pak Su keris ini bisa mendatangkan hujan, beliau mmbisikkan doa sambil menempelkan keris tersebut dikeningnya sebelum mencabut keris dari sarangnya. Dan 10 menit kemudian terjadi hujan lebat, dan ajaibnya beberapa saat setelah keris dimasukkan kembali kedalam sarungnya hujan kembali mereda digantikan oleh rintik-rintik kecil.
Selama kunjungan kerumah pak Su hanya tongkat dan keris yang dia tunjukkan kepada kami, menurut Mahyudin kami termasuk orang yang beruntung dapat melihat benda-benda kerajaan ini. Karena kami berkunjung pada malam hari jadi jadi agak kurang pantas untuk mengeluarkan semua benda-benda kerajaan. 

2 komentar:

  1. Dear Sir; I like this very much.saya peneliti sejarah kerajaan2 Indonesia.saya cari info se kerajaan2 Kapuas Hulu.Arsip kami sudah banyak info se kerajaan2 ini dan gambar2 raja2 tempo dulu.Saya mau echange dokumentasi. Terima kasih. Komplimen kami untuk info ini.

    Salam hormat:
    DP Tick gRMk
    secr. Pusat Dokumentasi kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"

    http://kerajaan-indonesia.blogspot.com
    www.royaltimor.com
    facebook: Donald Tick
    pusaka.tick@tiscali.nl

    BalasHapus
  2. Dear all;

    I have many info about the kerajaan Bunut from Arsip Nasional Belanda,because I am very much interested in the sejarah kerajaan kapuas Hulu dan the present situation of the KH dynasties.If you want it,just contact me.I give it free.

    Salam hormat:
    DP Tick
    pusaka.tick@tiscali.nl

    BalasHapus